/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Saturday, 26 April 2014


            Ting tung….!
Bukan, itu bukanlah suara bel rumahku, melainkan bunyi gadget ku. Kulihat saja dari tampilannya, “ah hanya notification  dari facebook”, batinku. Awalnya aku malas melihatnya, karena aku berfikir bahwa isinya pasti suatu hal yang tidak begitu penting, atau bahkan tidak penting sama sekali, apalagi ini malam minggu, sudah bisa dipastikan pesan itu hanyalah isi curhatan anak2 alay jaman sekarang yang jomblo dan kurang kerjaan.

            Ting tung.! Ting tung! Ting tung!...
Semakin lama semakin cepat saja bunyi itu. Akhirnya dengan ogah2an aku berniat utuk melihatnya dan kemudian mematikan notificationnya biar aku bisa tenang.

            “subhanallah, bukak fb ibuk Afnida Deni Nurmalinda walaupun kito lah cak itu dng dy, galak dak ngehargoi dy, tp dy masih do'ake kito masih syg samo kito jd ngeraso bersalah nn aku nyo”
DEG..! entah kenapa tiba2 aku menjadi deg deg.an membaca chat dari salah satu teman sekelasku yang bernama dyah.
Aku tentu saja penasaran, namun sebagian besar aku sudah tau apa maksud temanku itu berkata demikian.
           
sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa buk afnida adalah guru matematika di kelas ku, X.6, beliau masih sangat muda. Penampilannya selalu rapi, menarik, cantik dan anggun. Dan satu lagi yang sangat amat aku kagumi dari beliau, yaitu sifatnya yang begitu sabar dalam mengajar di kelas ku.
Padahal aku menilai sikap dan perilaku teman2 sekelasku terkadang sangatlah jauh dari kata sopan. Terutama temanku abi, hafiz, wibi dan lainnya, (mungkin aku juga termasuk -_-) bahkan saya sendiri pun menilai sikap buruk  mereka memang mendarah daging dan mungkin tidak bisa diperbaiki lagi (hahaha), namun beliau begitu sabarnya menghadapi orang2 se-kaliber mereka..

Kembali ke topic pesan fb tadi,….
Ya.. aku sudah menduga bahwa ibu afinida akan menuliskan sikap kami tadi siang di kronologi beliau. Siang itu, entah siapa yang memulai, tiba2 kelas menjadi riuh ketika ada seorang temnaku yang berteriak bahwa ibuk afnida akan berulangtahun besok minggu. Sontak saja semua berteriak menyanyikan lagu ulangtahun ditengah pelajaran beliau. Sengaja kami mengucapkan pada hari itu, karena besok adalah hari minggu.

            Perilaku kami tidak cukup hanya dengan bernyanyi, gerombolan abi dkk mulai tidak sopan dengan berceletuk meminta traktiran dari ibu afnida.
“buk. Bakso buk!”
“buk, traktir kami minuman sekelas buk, ibuk kan baik”
 Bahkan ada yang berceletuk meminta pada saat itu juga proses belajar mengajar matematika dihentikan..

            Beliau hanya tersenyum menjawab semua celetukan teman2ku, entah apa yang beliau rasakan di dalam hatinya melihat semua tingkah laku kami, namun yang beliau perlihatkan hanya satu mimic, satu ekspresi di muka beliau, SENYUM.



*****************


             

            “Kenalkan mereka padaMu Ya Rabb, moga mereka mengerti tentang Keindahan dan Kasih SayangMu yang Maha Luas. Teruntuk anak-anak kelas X5 dan X6, itulah status dari ibu afnida yang dyah maksud.
Aku terenyuh membacanya.  Sungguh, aku tidak menyangka, dan sangat amat terharu membaca doa beliau tersebut.
Kami yang tidak sopan, malas mengerjakan PR dari beliau, ribut di kelas saat dijelaskan, bahkan mengobrol dengan kawan sebangku saat beliau menulis di papan tulis sekalipun. Bukankah kalian berpikir itu sudah sangat amat keterlaluan.?
Subhanallah, sungguh kami merasa sangat amat terharu membacanya, bahwa kami ada dalam do’a beliau…


*****************



            “Batu yang sekeras itu pun, lama kelamaan akan bolong juga ketika ditetesi oleh air terus menerus” .
 Mungkin pepatah tersebut benar. Batu saja bisa menjadi bolong oleh air yang menetes terus menerus, apalagi hati manusia.
“hey ray(namaku) kamu gatau kan? Tadi di kelas ibu afnida nangis loh”. Kata salah satu temanku.
“haah.??”. serius.? Kataku seolah tidak percaya karena saat jam beliau saya tidak ada di kelas.
Setelah  mendengar cerita lengkapnya, maka aku pun sangat amat memaklumi kenapa beliau bisa menangis di kelas.
Wajar saja lah, siapa yang tidak sakit melihat ketika beliau masuk ke kelas semuanya ribut, dan ketika ditanya mengenai pekerjaan rumah, tidak seorang pun mengerjakannya, hingga akhirnya beliau menangis. Dalam diri ini berujar, mungkin beginilah marahnya beliau. Ketika semua rasa kecewa tersebut sudah tidak bisa ditampung lagi, maka semuanya keluar.
Satu lagi yang saya heran dari beliau, ketika kecewa itu sudah benar2 parah pun beliau hanya memendamnya sendirian, dan menahan rasa sakitnya sendiri hingga akhirnya air mata pun jatuh menetes. Saya pikir bu afnida pantas untuk marah, bahkan, pantas untuk menghukum kami semua se berat beratnya. Sampai sekarang pun diri ini masih tak habis pikir.

Oiya, Diakhir jam pelajaran matematika tadi, bu afnida membuat kami seolah tidak percaya, ketika beliau memanggil salah seorang temanku yang bernama bayu, beliau mengeluarkan selembar uang 50ribuan sambil berkata bahwa itu uang untuk membelikan kami semua minum di kantin.
Kembali diri ini berfikir, untuk apa coba ibu mau mengeluarkan uang 50rb untuk kami semua yang bandel, nakal dsb..
Tapi kembali saya katakana,  itulah ibu afnida, guru matematika kami yang sangat amat sayang dengan semua muridnya. :’)



Bukan hanya guru, dan orang tua kami, tapi juga motivator kami…
Entah kenapa, tiba2 ibu afnida menyuruh kami untuk menuliskan cita2 kami sekelas, sekaligus semua impian-impian kami.
Aku bingung, tiap hari saya malas belajar, hobby nya hanya mengarang cerita, membaca blog, maen game dan kegiatan2 aneh lainnya. Huft, dengan ogah-ogahan aku tulis saja apa yang ada di pikiranku saat itu, bahwa aku ingin kerja di kantoran, entah kantor apa pokoknya yang penting kantor, menghadap computer, dan punya mobil lamborgini, hahaha mimpi yang sangat amat tinggi dan tidak sesuai dengan apa yang aku jalani di keseharianku, ah biarlah, namanya juga keinginan dan cita-cita.

Entah dimulai dengan kata apa dan bagaimana cara beliau berkata pada saat itu, aku lupa. Namun sampai saat ini suntikan semangat beliau masi sangat membekas, pada saat itu beliau membuka semangat juang kami. Khususnya aku sendiri, aku sangat termotivasi oleh semua ucapan beliau, kata kata ibu afnida membuat aku sadar, bahwa kami masih sangat muda, berhak untuk belajar, berhak untuk sukses, berhak untuk mewujudkan semua keinginan kami, bahkan dari hobby sekecil apapun, kami berhak mengembangkannya, dan membuat jalan kami masing2 untuk menjadi sukses.

            Bukan hanya tulisan belaka mengenai apa yang aku rasakan pada saat itu. Jujur, aku benar2 termotivasi oleh ucapan beliau, bahkan tidak segan2 apabila nanti ketika aku sukses aku akan mengatakan salah satu inspirasi dan motivatorku sehingga aku bisa sukses adalah ucapan ibu afnida…
Mungkin bukan hanya aku yang termotivasi pada saat itu, aku yakin bahwa semua teman temanku termotivasi berkat apa yang dikatakan oleh beliau…



*****************

Itulah sedikit cerita mengenai guru matematika di kelasku. Guru yang sangat sayang kepada semua muridnya, guru yang selalu sabar dan ikhlas dalam mengajar, guru yang selalu datang tepat waktu, guru sekaligus orang tua kami, guru sekaligus sang motivator kami,

            Tiada kata seindah doa, di hari yang istimewa ini kami ucapkan “HAPPY MILAD” ibu kami “Afnida Deni Nurmalinda” semoga ibu selalu dalam lindungan-Nya

Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kuat angin menerpa, tak penting seberapa kuat angin itu, tapi lebih penting bagaimana cara untuk tetap berdiri menjadi semakin kokoh. Dan Kami yakin, bahwa ibu bisa..
Semoga dengan iringan doa kami, ibu bisa menjadi sekokoh karang di lautan, dan se anggun angkasa di lautan..

Terima Kasih ibu…..

                                                                                                           


            Kelas X,6 2013/2014

1 comment: