Ting tung….!
Bukan, itu bukanlah suara bel rumahku, melainkan bunyi
gadget ku. Kulihat saja dari tampilannya, “ah hanya notification dari facebook”, batinku. Awalnya aku malas
melihatnya, karena aku berfikir bahwa isinya pasti suatu hal yang tidak begitu
penting, atau bahkan tidak penting sama sekali, apalagi ini malam minggu, sudah
bisa dipastikan pesan itu hanyalah isi curhatan anak2 alay jaman sekarang yang
jomblo dan kurang kerjaan.
Ting tung.!
Ting tung! Ting tung!...
Semakin lama semakin cepat saja bunyi itu. Akhirnya dengan
ogah2an aku berniat utuk melihatnya dan kemudian mematikan notificationnya biar
aku bisa tenang.
“subhanallah, bukak fb ibuk Afnida Deni
Nurmalinda walaupun kito lah
cak itu dng dy, galak dak ngehargoi dy, tp dy masih do'ake kito masih syg samo kito jd ngeraso bersalah nn aku nyo”
DEG..! entah kenapa tiba2
aku menjadi deg deg.an membaca chat dari salah satu teman sekelasku yang
bernama dyah.
Aku tentu saja penasaran,
namun sebagian besar aku sudah tau apa maksud temanku itu berkata demikian.
sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa buk afnida adalah guru
matematika di kelas ku, X.6, beliau masih sangat muda. Penampilannya selalu
rapi, menarik, cantik dan anggun. Dan satu lagi yang sangat amat aku kagumi dari
beliau, yaitu sifatnya yang begitu sabar dalam mengajar di kelas ku.
Padahal aku menilai sikap
dan perilaku teman2 sekelasku terkadang sangatlah jauh dari kata sopan. Terutama
temanku abi, hafiz, wibi dan lainnya, (mungkin aku juga termasuk -_-) bahkan
saya sendiri pun menilai sikap buruk mereka memang mendarah daging dan mungkin
tidak bisa diperbaiki lagi (hahaha), namun beliau begitu sabarnya menghadapi
orang2 se-kaliber mereka..
Kembali ke topic pesan fb
tadi,….
Ya.. aku sudah menduga bahwa ibu afinida akan menuliskan
sikap kami tadi siang di kronologi beliau. Siang itu, entah siapa yang memulai,
tiba2 kelas menjadi riuh ketika ada seorang temnaku yang berteriak bahwa ibuk
afnida akan berulangtahun besok minggu. Sontak saja semua berteriak menyanyikan
lagu ulangtahun ditengah pelajaran beliau. Sengaja kami mengucapkan pada hari
itu, karena besok adalah hari minggu.
Perilaku kami tidak cukup hanya dengan bernyanyi,
gerombolan abi dkk mulai tidak sopan dengan berceletuk meminta traktiran dari
ibu afnida.
“buk. Bakso buk!”
“buk, traktir kami minuman
sekelas buk, ibuk kan baik”
Bahkan ada yang berceletuk meminta pada saat
itu juga proses belajar mengajar matematika dihentikan..
Beliau hanya tersenyum menjawab semua celetukan teman2ku,
entah apa yang beliau rasakan di dalam hatinya melihat semua tingkah laku kami,
namun yang beliau perlihatkan hanya satu mimic, satu ekspresi di muka beliau,
SENYUM.
*****************
“Kenalkan mereka padaMu Ya Rabb, moga mereka
mengerti tentang Keindahan dan Kasih SayangMu yang Maha Luas. Teruntuk
anak-anak kelas X5 dan X6,” itulah status dari ibu afnida yang dyah maksud.
Aku terenyuh
membacanya. Sungguh, aku tidak menyangka,
dan sangat amat terharu membaca doa beliau tersebut.
Kami yang tidak sopan,
malas mengerjakan PR dari beliau, ribut di kelas saat dijelaskan, bahkan
mengobrol dengan kawan sebangku saat beliau menulis di papan tulis sekalipun.
Bukankah kalian berpikir itu sudah sangat amat keterlaluan.?
Subhanallah, sungguh
kami merasa sangat amat terharu membacanya, bahwa kami ada dalam do’a beliau…
*****************
“Batu yang sekeras
itu pun, lama kelamaan akan bolong juga ketika ditetesi oleh air terus menerus”
.
Mungkin pepatah tersebut benar. Batu saja bisa
menjadi bolong oleh air yang menetes terus menerus, apalagi hati manusia.
“hey
ray(namaku) kamu gatau kan? Tadi di kelas ibu afnida nangis loh”. Kata salah
satu temanku.
“haah.??”.
serius.? Kataku seolah tidak percaya karena saat jam beliau saya tidak ada di
kelas.
Setelah
mendengar cerita lengkapnya, maka aku
pun sangat amat memaklumi kenapa beliau bisa menangis di kelas.
Wajar saja
lah, siapa yang tidak sakit melihat ketika beliau masuk ke kelas semuanya ribut,
dan ketika ditanya mengenai pekerjaan rumah, tidak seorang pun mengerjakannya,
hingga akhirnya beliau menangis. Dalam diri ini berujar, mungkin beginilah
marahnya beliau. Ketika semua rasa kecewa tersebut sudah tidak bisa ditampung
lagi, maka semuanya keluar.
Satu lagi
yang saya heran dari beliau, ketika kecewa itu sudah benar2 parah pun beliau
hanya memendamnya sendirian, dan menahan rasa sakitnya sendiri hingga akhirnya
air mata pun jatuh menetes. Saya pikir bu afnida pantas untuk marah, bahkan, pantas untuk menghukum
kami semua se berat beratnya. Sampai sekarang pun diri ini masih tak habis pikir.
Oiya, Diakhir
jam pelajaran matematika tadi, bu afnida membuat kami seolah tidak percaya,
ketika beliau memanggil salah seorang temanku yang bernama bayu, beliau
mengeluarkan selembar uang 50ribuan sambil berkata bahwa itu uang untuk
membelikan kami semua minum di kantin.
Kembali diri ini berfikir,
untuk apa coba ibu mau mengeluarkan uang 50rb untuk kami semua yang bandel,
nakal dsb..
Tapi kembali saya katakana,
itulah ibu afnida, guru matematika kami
yang sangat amat sayang dengan semua muridnya. :’)
Bukan hanya guru, dan orang tua kami, tapi
juga motivator kami…
Entah kenapa, tiba2 ibu afnida menyuruh kami untuk
menuliskan cita2 kami sekelas, sekaligus semua impian-impian kami.
Aku bingung, tiap hari saya malas belajar, hobby nya hanya
mengarang cerita, membaca blog, maen game dan kegiatan2 aneh lainnya. Huft,
dengan ogah-ogahan aku tulis saja apa yang ada di pikiranku saat itu, bahwa aku
ingin kerja di kantoran, entah kantor apa pokoknya yang penting kantor,
menghadap computer, dan punya mobil lamborgini, hahaha mimpi yang sangat amat
tinggi dan tidak sesuai dengan apa yang aku jalani di keseharianku, ah biarlah,
namanya juga keinginan dan cita-cita.
Entah dimulai dengan kata apa dan bagaimana cara beliau
berkata pada saat itu, aku lupa. Namun sampai saat ini suntikan semangat beliau
masi sangat membekas, pada saat itu beliau membuka semangat juang kami. Khususnya
aku sendiri, aku sangat termotivasi oleh semua ucapan beliau, kata kata ibu
afnida membuat aku sadar, bahwa kami masih sangat muda, berhak untuk belajar,
berhak untuk sukses, berhak untuk mewujudkan semua keinginan kami, bahkan dari
hobby sekecil apapun, kami berhak mengembangkannya, dan membuat jalan kami
masing2 untuk menjadi sukses.
Bukan hanya
tulisan belaka mengenai apa yang aku rasakan pada saat itu. Jujur, aku benar2
termotivasi oleh ucapan beliau, bahkan tidak segan2 apabila nanti ketika aku
sukses aku akan mengatakan salah satu inspirasi dan motivatorku sehingga aku
bisa sukses adalah ucapan ibu afnida…
Mungkin bukan hanya aku yang termotivasi pada saat itu, aku
yakin bahwa semua teman temanku termotivasi berkat apa yang dikatakan oleh beliau…
*****************
Itulah sedikit cerita
mengenai guru matematika di kelasku. Guru yang sangat sayang kepada semua
muridnya, guru yang selalu sabar dan ikhlas dalam mengajar, guru yang selalu datang
tepat waktu, guru sekaligus orang tua kami, guru sekaligus sang motivator kami,
Tiada kata
seindah doa, di hari yang istimewa ini kami ucapkan “HAPPY MILAD” ibu kami “Afnida
Deni Nurmalinda” semoga ibu selalu dalam lindungan-Nya
Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kuat angin menerpa,
tak penting seberapa kuat angin itu, tapi lebih penting bagaimana cara untuk
tetap berdiri menjadi semakin kokoh. Dan Kami yakin, bahwa ibu bisa..
Semoga dengan iringan doa kami, ibu bisa menjadi sekokoh
karang di lautan, dan se anggun angkasa di lautan..
Terima Kasih ibu…..
Kelas X,6 2013/2014
Haha , jadi keinget aku jaman2 x.6
ReplyDelete